Showing posts with label Poet. Show all posts
Showing posts with label Poet. Show all posts

June 07, 2013

Maafkan dan Terima Kasih

pasti akan lenyap lalu sirna
pudar perlahan kemudian punah
namun aku takut akan ada yang tersisa
tidak sepenuhnya hilang
karena sebenarnya aku masih mencoba

mencoba untuk menjauh
mencoba untuk tidak jatuh
mencoba untuk memaafkan diriku
yang sudah menghampirimu
menerbangkanmu
menghias harimu
namun pangkal bukan bahagia
karena akhirnya
aku menjatuhkanmu
menghapus goresan warna dalam harimu

maafkan akan badai yang kuberi
maaf tentang kelabu yang menghampiri
sekali lagi..
maafkan
maafkan daku yang tak pasti
maafkan setiap langkah yang kuambil untuk pergi

jika tidak begini
mungkin bukan bahagia yang akan kau temui
karena perubahan hanya akan membayangi
seperti cuaca, aku pun dapat berubah
siapa sangka kau akan berubah pula nantinya

jika boleh,
sesungguhnya aku tak ingin pergi
mengurungkan niat untuk angkat kaki
tapi nampaknya aku hanya akan menajdi beban hati
sebaiknya aku berhenti
maafkan dan terima kasih





May 03, 2013

Takut

Ketika sebagian besar takut akan hantu
Takut akan makhluk berbulu
Takut akan sesuatu yang mengganggu
sedangkan aku membisu
Tertegun karena bukan hal itu takutku
Mendapati ia tidak lagi menunggu
Mungkin akan lebih seram dari hantu
Mengetahui ia kehilangan rasa untukku
Mungkin bagai bertemu pembunuh
Tidak memiliki kesempatan untuk mengungkapan
Apa yang selama ini tertahan
Bagai dirayapi ulat bulu
Membayangkan ia pergi
Rasanya bukan hanya teror yang menghampiri
Dan yang lebih mengerikan lagi
Jika alasanmu tersenyum bukanlah aku ini

February 23, 2013

Lilin Tanpa Api


Kamu yang di sana tidak akan tahu
Jauh di balik semua ini ada rindu
Yang manis tapi terbelenggu
Terkurung ragu diikat malu

Aku, insan yang selalu menunggu
Penyimpan rindu
yang memekakkan
Meski rapi tersimpan
daku tak pernah enggan

Walau dirimu surya, aku rembulan
disitulah rindu hanya kata tanpa tuan
Karena sesungguhnya rembulan tak berlengan
Maka rindu sekedar kata tanpa tuan
Kita tidak bisa dipertemukan
bahkan disatukan

Kau tidak tahu meski semesta hiruk
bulan terpaku sepi
Meski gugusan bintang menemani
Begitulah diriku ketika rindu
Bagai lilin tanpa api

December 21, 2012

Tuhan, Sampaikan Ini Untuk Ibuku


Beribu-ribu hari sudah hanya ada raga dan jiwa yang terus berusaha
Terombang-ambing akan ombak kehidupan yang fana
Terjebak di sela-sela rutinitas dunia
Raga yang terus berkelana selalu dihampiri lelah
Untuk insan yang lain mereka turut bahagia
Karena setelah perjalanan jauh,
mereka tidak perlu bingung mencari sauh

Waktu dan yang lain bagai bius dalam darah
Efeknya membuat semua duka tidak terasa
Namun meski sudah menaun, tak elak dukapun meninggalkan serpihannya
Semuanya berubah, bunda
Aku, dunia bahkan belahan jiwa yang kau cinta
Apa kabar dirimu di sana?
Sudahkah kau terima dariku setumpuk alfatihah?
Janganlah kau menengok ke bawah
Karena kerumitan di sini tak akan membuatmu bahagia

Hatiku koyak, bunda
Aku meringkuk sedemikian rupa
di kala aku membutuhkan cinta
Lembut tanganmulah yang ku rindu di saat aku merana
Namun mengharap kehadiranmu bagai mengharap semburat biru untuk senja yang selalu merah
Ke mana aku harus berlari jika lelah mematah asa?

Layaknya tiga puluh hari silam ketika seorang anak adam mencoba menoreh luka
Diriku, seorang insan tanpa bunda bingung mencari pijakan tanah
Hanya tangis yang bisa ku hasilkan, bunda
Dalam halaman ini, aku hanya bisa mengucapkan kata
Rangkaian alfabet yang mewakili detail hari ku di dunia
Bersama anak tertua aku mencoba berdiri dan menegakkan wajah
Menjalani hari dengan cintamu di hati kita

Aku ingin tumbuh sepertimu, bunda
Tangguh nan kuat bagai baja
Komplikasi dunia sudah pernah kau rasa dan kau pun tidak melemah
Ke tidakberadaanmu bukan berarti kau kalah
Hanya habis lembar saja yang membuat bunda hanya berupa nama
Di sini aku akan terus berusaha
Meski gelas akan penuh dengan hampa
Meski asa diambang patah
Bersama kakak, serta cintamu aku akan terus melangkah
Terima kasih telah menaungiku selama yang kau bisa
Dengan ini ku berkata bahwa rindu tidak akan ada habisnya
Bunda, bahagialah di sana
Tunggulah sepasang ananda-ananda ini untuk kembali berkumpul bersama di dalam surgaNya

Selamat Hari Ibu




Selalu di Hati


Secercah perubahan tertoreh seraya sebuah langkah terangkat untuk pergi
Dahulunya kokoh bagai serumpun lidi
Namun derap langkah yang kau ambil mencipta ringkih
Langkahmu menggema, merubah keutuhan menjadi serpih
Hancur, hancur benar batin ini

Berkelana aku mencoba menghindari
Berkucing-kucingan dengan gema masa lalu berupa memori
Tidak sekedar jalan lurus kulalui
Serangkaian kelokan, kerikil serta tikungan yang kutemui

Gelas kebahagiaan bagai umur diri
Bukan bertambah melainkan berkurang untuk sekian kali
Tidak setengah penuh, namun separuh hampa, sunyi
Senyum tulus yang dulu deras bagai tsunami
Kini hanya topeng yang mengganti
Alhasil gelasku nyaris kering, hanya udara yang datang dan pergi
mengisi separuh sisi 

Senyum palsu berubah menjadi selotip yang menegakkan diri
Kesabaran yang luas bagai samudera menjadi alasan mengapa hatiku masih bisa mengasihi
Kepalsuan menggelitik sang pencipta untuk menganugerahkan pengganti
Ia membuka mataku yang sembap untuk menilik sekali lagi
Cinta tidak hanya tumbuh dari seorang lelaki
Namun ia punya anugerah lain yang lebih berarti
yaitu Kawan sejati
Anugerah yang selama ini terlewati
CiptaanNya yang dapat mengasihi
Tanpa lara, tanpa rumit di hati

Kegilaan menumbuhkan senyum yang tersembunyi
Kekonyolan menghangatkan dinginnya hati
Gurauan lantas mengganti,
mengaburkan pedihnya masa lalu yang sudah terjadi
Sosok mereka layaknya penopang kebahagiaanku yang terlanjur ringkih
Kini mereka menjadi mata air yang mengisi
gelasku tak lagi hampa nan sunyi
Bukan setengah kosong namun hampir penuh lagi
sejuta, bermilyar kata terima kasih tidak sanggup mengapresiasi
Doaku kini berhiaskan nama mereka,
Kuluangkan waktu untuk mengucap syukur pada tuhan akan keeksistensian mereka yang kini menemani
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau telah menyadarkan diri ini
Menyingkap salahnya asumsi bahwa sebentar lagi aku akan tenggelam dalam sedih
Namun Tuhan, engkaulah zat yang paling mengerti bahwa tidak harus bersedih untuk menuju keutuhan diri
Engkau bagai peta yang membimbingku bahwa ada jalan lain untuk bersenang hati dan itu adalah mereka, kawan yang selalu di hati

December 05, 2012

Doa Terkabulkan Dan Kaupun Bahagia, Tanpaku, Tanpa Kita


Sebuah komedi adalah ketika kau sudah melangkah
dan aku masih terdiam, bingung dan lelah
Tawa menjadi latar ketika kenangan membuatku pasrah
Terkoyak oleh perasaan yang bahkan telah sirna
Dan Ironis adalah ketika aku berdoa
sedangkan kau berusaha untuk yang lainnya

Kalimat doa terucap
tak tersiar namun ikhlas nan mantap
Rangkaian pengharapan untukmu,
untuk langitmu,
agar tetap biru meski mendung di pihakku

Ditemani waktu aku berduka
merajut kata rindu serta doa
Meminta tuhan untuk menjaga
dirimu agar tetap bahagia

Janggal rasanya menghapus namamu dari doa
Karena terbiasa, rasanya seperti lubang yang menganga
Terdesak ironis akupun hampir menyerah
Akal pikiran terusik benci dan marah
tetapi kuputuskan untuk terus memanjatkannya
Dan benar adanya jika Tuhan punya telinga
Karena nampaknya doaku dikabulkannya
Kini kau sudah bahagia rupanya
Tanpaku, tanpa kita

December 03, 2012

Punggung


Hai, siapa nyana kita dipertemukan
Ya memang bertemu namun aku tahu kau enggan
Bukan takdir atau apa tapi sebuah keharusan
Keharusan memaksamu, kan?
Jika saja kau punya pilihan
Harga mati keberadaanku akan kau hapus dari pandangan

Hari ini punggungmu bagai pemandangan
Terbentang kokoh tak terelakkan
Hanya jengkal yang memisahkan
namun dekat, terlalu dekat malahan
Bidangnya masih segar dalam ingatan
Keindahannya terperangkap dalam kenangan
Setiap incinya menyeretku dalam kerinduan
Rindu yang ringkih akan kenyataan
bahwa hakku sudah tak berlengan

Seorang aku yang tak tahan iman
terombang-ambing di tengah lautan kenangan
Kuatnya niat luntur karena indahnya pemandangan

November 19, 2012

Misted Dessert

Manis kata, janjipun tak lupa
Baik hati, lakuanpun sahaja
Gurun keringpun mau saja
Tiada hujan, kesejukan apapun ditadah
Hanya awalan, semua tampak baik saja
Diselimuti baris kata yang manis menggoda
Ditambah janji berlapis
Padahal mana tahu lapis selanjutnya apa
Sudah kubilang, gurunpun merindu, jadi diterima saja
Jangan salahkan dia

Waktu, ya, karena waktu atau entah apa.
Kabut sejuk menunjukkan anomalinya
Bukan kesejukan lagi namun tanda-tanda
Ia tampak enggan dan berbeda
Gurunpun cemas dan curiga
Serta merta dan tiba-tiba, tak dinyana
Kabut menggulung kesejukan miliknya.
Tandus yang hampir basah bertanya 'mengapa?'
Kabut yang sejatinya memang begitu berkata,
'ini sifatku. datang dan pergi sesuka hamba. tidak ada cara dan tidak mungkin hamba berubah.'
Batu lembap dipenuhi lumut menyangga,
'jika begini sejatinya, mengapa kau menyejukkan gurunnya? kau membawa asa lalu kau melenyapkannya. kau mengusir hampa dan lihat sekarang, kau menebar sunyi sebelum bencana.'
Kabut memang semu, bersiteguh ia membawa kesejukannya.
Namun ya, panas terik, kering, senyap, gurun sudah mengalaminya.
Kepergian kabut hanya kepergian seperti hujan dan cuaca.
Gurun akan kembali terbiasa.

November 15, 2012

Berilah Judul Karena Sejatinya Aku Juga Tidak Tahu

Berbagi rasa selama mungkin
Sekuat hati menanggung luapan
segala emosi yang melelahkan
Namun jika kau menyanggupi
lelah pun tertangguhkan

Ketika bianglala tak lagi menyenangkan
Ketika melodi tidak lagi menenangkan
Di sanalah kau berdiri dengan enggan
Di samping ku namun bungkam

Bukan senyummu
Melainkan punggungmu
Hangat terasa beku
Baik namun kaku
Apakah itu dirimu?
Maksudku apa benar itu dirimu?

Kalimat tidak terdengar manis lagi
Perlakuan tak lagi menyanjung hati
Sungguh sangat jelas kau menoreh degradasi
Karena apa aku tak tahu pasti

Apa karena waktu?
Ataukah memang sejatinya dirimu?
Yang jelas bukan aku
Karena di relung ini masih ada rindu
Yang tidak terucap, yang terbelenggu


October 06, 2012

Scent, Brown, You, Me


It's not giving up. It means that I have enough.
The facts are everywhere but this time I need to call your bluff
Do you  not know that we are far beyond the line?
and you still think that it is fine.

Brown. Yes brown.
The color of my days.
I'm liking it as always.

Song.
A good company
I always sing
And you sing the same song as me
Of course I'm letting it be

But I never thought this is what would gonna be

You started it first and I followed your game
Boy, you took aim
And it's a shame
Everything is the same

You do this often
Your game even has particular pattern
And no doubt I've fallen
Even deeper

I'm struggling to figure this one out
But you're always trying to make it right when it's not

And now I've had enough of your scent
I get a pen
To draw a vivid line

I've had enough with the color brown
I'll look away
No longer wanting to be drowned

I've had enough of the melody in the song
I don't wanna be haunted all night long

I'll put off my earphone
Get rid of you from my bone
I shouldn't have followed your game and I won't