The last day of 2012, it's amazing that however doomsday is still a mystery, a secret that only He knows the answer. The pages are finally running out and this is gonna be the end of 2012. Up until now If you ask me to list down some moments of the year, I couldnt do it. There are so many remarkable things that have happened, good and bad. I just can't list them down but I hate when my little me screams that the moment of the year is meeting you though there also pain came along with that blessing.
My 16th birthday is also a moment I supposed to remember. The time when I hadn't met you when my smile was sincere when everybody came up with surprises. It was the time when my ride was up in the cloud but it's okay, everyday life has been a roller coaster. I've fallen many times but eventually I've raised then stumbled and ended up falling again, it'll go on and on. But I'm putting my self as a blade now, the burden that I've faced this year is nothing but only to make me sharper.
I learn how to face the truth, I learn how to love unconditionally. I learn how to cope the pain and it's brought me to another lesson, I learn how important friends and family are. There's gonna be 365 more days to come, another roller coaster ride. I hope the burden will make me stand even taller. My heart is going to be fixed and bullet proof. No more breaking down. I may fall but God is here to give reasons to always get back up right after that. I'm gonna try harder, live happier and end up stand taller.
For anything and anyone that have stood in my way, thanks for the burden. Your actions did get me down but that only make me grow stronger. So long 2012. Whatever it is in 2013, I'm ready
December 31, 2012
December 21, 2012
Tuhan, Sampaikan Ini Untuk Ibuku
Beribu-ribu hari sudah hanya ada raga dan jiwa yang terus berusaha
Terombang-ambing akan ombak kehidupan yang fana
Terjebak di sela-sela rutinitas dunia
Raga yang terus berkelana selalu dihampiri lelah
Untuk insan yang lain mereka turut bahagia
Karena setelah perjalanan jauh,
mereka tidak perlu bingung mencari sauh
Waktu dan yang lain bagai bius dalam darah
Efeknya membuat semua duka tidak terasa
Namun meski sudah menaun, tak elak dukapun meninggalkan serpihannya
Semuanya berubah, bunda
Aku, dunia bahkan belahan jiwa yang kau cinta
Apa kabar dirimu di sana?
Sudahkah kau terima dariku setumpuk alfatihah?
Janganlah kau menengok ke bawah
Karena kerumitan di sini tak akan membuatmu bahagia
Hatiku koyak, bunda
Aku meringkuk sedemikian rupa
di kala aku membutuhkan cinta
Lembut tanganmulah yang ku rindu di saat aku merana
Namun mengharap kehadiranmu bagai mengharap semburat biru untuk senja yang selalu merah
Ke mana aku harus berlari jika lelah mematah asa?
Layaknya tiga puluh hari silam ketika seorang anak adam mencoba menoreh luka
Diriku, seorang insan tanpa bunda bingung mencari pijakan tanah
Hanya tangis yang bisa ku hasilkan, bunda
Dalam halaman ini, aku hanya bisa mengucapkan kata
Rangkaian alfabet yang mewakili detail hari ku di dunia
Bersama anak tertua aku mencoba berdiri dan menegakkan wajah
Menjalani hari dengan cintamu di hati kita
Aku ingin tumbuh sepertimu, bunda
Tangguh nan kuat bagai baja
Komplikasi dunia sudah pernah kau rasa dan kau pun tidak melemah
Ke tidakberadaanmu bukan berarti kau kalah
Hanya habis lembar saja yang membuat bunda hanya berupa nama
Di sini aku akan terus berusaha
Meski gelas akan penuh dengan hampa
Meski asa diambang patah
Bersama kakak, serta cintamu aku akan terus melangkah
Terima kasih telah menaungiku selama yang kau bisa
Dengan ini ku berkata bahwa rindu tidak akan ada habisnya
Bunda, bahagialah di sana
Tunggulah sepasang ananda-ananda ini untuk kembali berkumpul bersama di dalam surgaNya
Selamat Hari Ibu
Selalu di Hati
Secercah perubahan tertoreh seraya sebuah langkah terangkat untuk pergi
Dahulunya kokoh bagai serumpun lidi
Namun derap langkah yang kau ambil mencipta ringkih
Langkahmu menggema, merubah keutuhan menjadi serpih
Hancur, hancur benar batin ini
Berkelana aku mencoba menghindari
Berkucing-kucingan dengan gema masa lalu berupa memori
Tidak sekedar jalan lurus kulalui
Serangkaian kelokan, kerikil serta tikungan yang kutemui
Gelas kebahagiaan bagai umur diri
Bukan bertambah melainkan berkurang untuk sekian kali
Tidak setengah penuh, namun separuh hampa, sunyi
Senyum tulus yang dulu deras bagai tsunami
Kini hanya topeng yang mengganti
Alhasil gelasku nyaris kering, hanya udara yang datang dan pergi
mengisi separuh sisi
Senyum palsu berubah menjadi selotip yang menegakkan diri
Kesabaran yang luas bagai samudera menjadi alasan mengapa hatiku masih bisa mengasihi
Kepalsuan menggelitik sang pencipta untuk menganugerahkan pengganti
Ia membuka mataku yang sembap untuk menilik sekali lagi
Cinta tidak hanya tumbuh dari seorang lelaki
Namun ia punya anugerah lain yang lebih berarti
yaitu Kawan sejati
Anugerah yang selama ini terlewati
CiptaanNya yang dapat mengasihi
Tanpa lara, tanpa rumit di hati
Kegilaan menumbuhkan senyum yang tersembunyi
Kekonyolan menghangatkan dinginnya hati
Gurauan lantas mengganti,
mengaburkan pedihnya masa lalu yang sudah terjadi
Sosok mereka layaknya penopang kebahagiaanku yang terlanjur ringkih
Kini mereka menjadi mata air yang mengisi
gelasku tak lagi hampa nan sunyi
Bukan setengah kosong namun hampir penuh lagi
sejuta, bermilyar kata terima kasih tidak sanggup mengapresiasi
Doaku kini berhiaskan nama mereka,
Kuluangkan waktu untuk mengucap syukur pada tuhan akan keeksistensian mereka yang kini menemani
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau telah menyadarkan diri ini
Menyingkap salahnya asumsi bahwa sebentar lagi aku akan tenggelam dalam sedih
Namun Tuhan, engkaulah zat yang paling mengerti bahwa tidak harus bersedih untuk menuju keutuhan diri
Engkau bagai peta yang membimbingku bahwa ada jalan lain untuk bersenang hati dan itu adalah mereka, kawan yang selalu di hati
December 15, 2012
day 30
your scent
your name
your back
your presence
your promises
Italy
Remembering Sunday
Skyfall
Guitar
It's been a month now but how can I forget you when you gave me so much to remember ?
I go everywhere, doing things out of frustration, searching for words to calm me down.
"You'll be fine," they said.
"You'll forget about him," they told me.
Always the same and now those sentence sound cliche.
It's easier said than done.
I smile but I die a little when I see you with someone else
I live but I can barely breathe when I know that you're having a blue sky life over there.
But someone wise said something,
You feel hurt so much when you recall the memories. It's not that you can't forget it. It's because you involve too much feeling. It won't hurt that much when you reminisce without any feeling. So just forgive him for what he did. Live your life. Dont waste your time for even thinking about someone who doesnt even think about you.
The next day, up until now even, I've stopped my feeling to get involved.
I dont want to grieve while you've moved on.
I know that I still feel something for you but it's wrong.
So yeah, I wish the day after this, I'd totally stand so tall.
I will smile sincerely when you're already happy (I believe) with someone that can change you. If you're happy then I should be too.
I will live my life to the fullest because I learn something from what we've been through
Since there's no more you and me
It's time I let you go
So I can be free
And live my life how it should be
No matter how hard it is I'll be fine without you
Yes I will
Tiga Puluh Hari Yang Lalu
Hai, kamu, iya kamu.
Masih ingat di siang bolong bulan november lalu ketika dengan bodohnya kamu mengirim pesan bahwa kita lebih baik tidak melanjutkan semuanya?
Dengan lelah yang sudah terakumulasi, aku mengira kalau kamu hanya bercanda namun mimpi apa yang datang pada bolongnya siang.
Mereka hanya kumpulan kata-kata yang kau rangkai sedemikian rupa, namun bagiku kalimat itu seperti kepalan tangan Mike Tyson yang dengan tanpa ampunnya mendarat di dadaku. Membacanyapun bagai mengunyah antibiotik yang diberi dokter setiap aku terkena radang.
Namun momen setelah kejadian itulah yang kini meninggalkan radang di hatiku.
Baris kata yang kau kirim sangat jujur, malah dapat kurasakan sampai sekarang bahwa saat itu bukan hanya tulisan polos saja namun aku dapat mendengar suara sengaumu menyuarakannya. Menyuarakan bahwa delapan belas hari yang kita punya bukan apa-apa namun hanyalah serangkaian tanggal di mana suasana membuaimu.
Pesanmu bagai tamparan ketika aku membacanya berulang-ulang karena untuk bernapaspun aku sulit apalagi untuk mencerna tiap kalimatmu. Dering handphoneku saat itu terdengar bagai tiup sangkakala ketika aku selesai mengirimkan balasan yang hanya berisikan satu kata,
Kamu membanjiriku dengan kalimat yang seakan-akan aku tidak punya hati yang bisa disakiti, kejam, terlalu jujur. Entah apakah memang itu yang kamu alami atau hanya kebohongan belaka yang bisa membebaskanmu dariku. Terbawa suasana katamu. Kamu menyalahkan suasana, lalu bagaimana dengan hatimu? Apa rasa sayang yang kamu deklarasikan di atas bianglala itu termasuk hasil buaian suasana?
Selanjutnya kalimat berjuntaian dalam kepalaku dan semuanya berawal dengan 'kukira'.
Kukira kamu bisa berubah dengan kesempatan yang aku kasih.
Kukira kita akan bahagia bersama
Kukira kita benar-benar bisa pergi ke Italia
Kukira , kukira, kukira !
Kata itu membuat mataku terasa seperti tersengat, pedih namun sakit di dadaku lebih luar biasa.
Sampai-sampai hanya beberapa bulir air mata saja yang lolos, sisanya tersamarkan denyutan rasa sakit.
Tersendat-sendat aku mengetik balasan untuk pesanmu yang kejam.
Amarah, kecewa, sedih semuanya tak mau kalah, meminta untuk dicantumkan dalam pesanku.
Tetapi kepalaku tak cukup sehat untuk memilih mana yang harus mendominasi kalimat-kalimatku dan ya pada akhirnya aku hanya sanggup berterima kasih dan membubuhkan satu kalimat yang mewakili rasa kecewaku.
30 hari sudah aku berusaha sepenuh hati untuk tidak muntab ataupun berlari kembali di hadapanmu dan memohon untuk pergi berdua naik bianglala seperti dulu. Tapi aku bahkan ragu sampai sekarang jika semuanya hanya berdasarkan buaian suasana.
Aku bertanya-tanya apakah bahkan momen terindah itu, ketika di atas bianglala, apakah kau benar-benar ingin dan sayang aku?
Aku tidak bisa membuat kepalaku jauh dari pertanyaan, "apakah ketika dia memegang tanganku karena benar-benar ingin atau hanya karena suasana membuatnya terlalu menghayati peran?"
Tiap kali pertanyaan itu muncul, bulu romaku berdiri membayangkan jawabannya. Karena jika memang ia sanggup menjawabnya, sudah pasti akulah si Bodoh yang dengan sukarela memberinya kesempatan untuk membodohi karena sebenarnya semua tampak jelas dari awal. Hanya aku saja yang terlalu yakin bahwa kamu bisa berubah.
Namun aku yakin dengan bantuan Tuhan, teman dan hal-hal lain semuanya akan terlewati. Dengan kehidupan yang persis roda, dengan pepatah "kau akan menuai apa yang kau tanam" semuanya akan terasa adil. Amarahku tidak butuh dendam, jika suatu hari nanti kamu akan merasakan hal yang sama, hal yang kurasakan pada siang bolong 15 november lalu.
Terima kasih kamu mau terbuai oleh suasana pada saat itu. Terima kasih juga kamu telah berhasil meyakinkan seorang aku untuk mencintai setiap detail kebohonganmu. Kamu membawakanku sedikit perubahan, banyak pelajaran dan secercah rasa sakit serta sebuah lubang yang masih menganga. Entah bagaimana kabarmu di luar sana, tapi kuharap kau...entahlah. Menyadari apa yang telah kau lakukan?
Masih ingat di siang bolong bulan november lalu ketika dengan bodohnya kamu mengirim pesan bahwa kita lebih baik tidak melanjutkan semuanya?
Dengan lelah yang sudah terakumulasi, aku mengira kalau kamu hanya bercanda namun mimpi apa yang datang pada bolongnya siang.
Mereka hanya kumpulan kata-kata yang kau rangkai sedemikian rupa, namun bagiku kalimat itu seperti kepalan tangan Mike Tyson yang dengan tanpa ampunnya mendarat di dadaku. Membacanyapun bagai mengunyah antibiotik yang diberi dokter setiap aku terkena radang.
Namun momen setelah kejadian itulah yang kini meninggalkan radang di hatiku.
Baris kata yang kau kirim sangat jujur, malah dapat kurasakan sampai sekarang bahwa saat itu bukan hanya tulisan polos saja namun aku dapat mendengar suara sengaumu menyuarakannya. Menyuarakan bahwa delapan belas hari yang kita punya bukan apa-apa namun hanyalah serangkaian tanggal di mana suasana membuaimu.
Pesanmu bagai tamparan ketika aku membacanya berulang-ulang karena untuk bernapaspun aku sulit apalagi untuk mencerna tiap kalimatmu. Dering handphoneku saat itu terdengar bagai tiup sangkakala ketika aku selesai mengirimkan balasan yang hanya berisikan satu kata,
"Mengapa?"Bukan gempa yang menggoyangkan tanah di bawahku namun balasan pesan yang kau kirim untukku.
"Perasaanku sejak awal tidak pernah berlebih dan sekarang aku tidak sayang sama kamu. Maaf."Percayalah bisa kudengar suara petir meski langit sangat biru dan cerah di luar sana. Selanjutnya sangat buram untuk diingat karena dapat kupastikan bahwa untuk membalasnyapun aku kehabisan kata-kata.
Kamu membanjiriku dengan kalimat yang seakan-akan aku tidak punya hati yang bisa disakiti, kejam, terlalu jujur. Entah apakah memang itu yang kamu alami atau hanya kebohongan belaka yang bisa membebaskanmu dariku. Terbawa suasana katamu. Kamu menyalahkan suasana, lalu bagaimana dengan hatimu? Apa rasa sayang yang kamu deklarasikan di atas bianglala itu termasuk hasil buaian suasana?
Selanjutnya kalimat berjuntaian dalam kepalaku dan semuanya berawal dengan 'kukira'.
Kukira kamu bisa berubah dengan kesempatan yang aku kasih.
Kukira kita akan bahagia bersama
Kukira kita benar-benar bisa pergi ke Italia
Kukira , kukira, kukira !
Kata itu membuat mataku terasa seperti tersengat, pedih namun sakit di dadaku lebih luar biasa.
Sampai-sampai hanya beberapa bulir air mata saja yang lolos, sisanya tersamarkan denyutan rasa sakit.
Tersendat-sendat aku mengetik balasan untuk pesanmu yang kejam.
Amarah, kecewa, sedih semuanya tak mau kalah, meminta untuk dicantumkan dalam pesanku.
Tetapi kepalaku tak cukup sehat untuk memilih mana yang harus mendominasi kalimat-kalimatku dan ya pada akhirnya aku hanya sanggup berterima kasih dan membubuhkan satu kalimat yang mewakili rasa kecewaku.
"You suck."Tak butuh lama untuk kamu membalas pesanku namun untuk apa lagi membalas pesanmu ketika semuanya sudah tersingkap jelas, sejelas kristal.
30 hari sudah aku berusaha sepenuh hati untuk tidak muntab ataupun berlari kembali di hadapanmu dan memohon untuk pergi berdua naik bianglala seperti dulu. Tapi aku bahkan ragu sampai sekarang jika semuanya hanya berdasarkan buaian suasana.
Aku bertanya-tanya apakah bahkan momen terindah itu, ketika di atas bianglala, apakah kau benar-benar ingin dan sayang aku?
Aku tidak bisa membuat kepalaku jauh dari pertanyaan, "apakah ketika dia memegang tanganku karena benar-benar ingin atau hanya karena suasana membuatnya terlalu menghayati peran?"
Tiap kali pertanyaan itu muncul, bulu romaku berdiri membayangkan jawabannya. Karena jika memang ia sanggup menjawabnya, sudah pasti akulah si Bodoh yang dengan sukarela memberinya kesempatan untuk membodohi karena sebenarnya semua tampak jelas dari awal. Hanya aku saja yang terlalu yakin bahwa kamu bisa berubah.
Namun aku yakin dengan bantuan Tuhan, teman dan hal-hal lain semuanya akan terlewati. Dengan kehidupan yang persis roda, dengan pepatah "kau akan menuai apa yang kau tanam" semuanya akan terasa adil. Amarahku tidak butuh dendam, jika suatu hari nanti kamu akan merasakan hal yang sama, hal yang kurasakan pada siang bolong 15 november lalu.
Terima kasih kamu mau terbuai oleh suasana pada saat itu. Terima kasih juga kamu telah berhasil meyakinkan seorang aku untuk mencintai setiap detail kebohonganmu. Kamu membawakanku sedikit perubahan, banyak pelajaran dan secercah rasa sakit serta sebuah lubang yang masih menganga. Entah bagaimana kabarmu di luar sana, tapi kuharap kau...entahlah. Menyadari apa yang telah kau lakukan?
Subscribe to:
Posts (Atom)


